Teknik melawak Opera Van Java
Beberapa waktu yang lalu kita dikejutkan oleh Tukul Arwana yang membawa gaya baru dalam membawakan acara Talk Show. Gaya Mas Tukul yang khas dan ndeso membius kita untuk selalu menanti-nanti acara tersebut. Kreatifitas yang jenaka dan menonjolkan sisi self confidence-nya yang tebal muka menjadi senjata utamanya dalam menjual diri. Berbeda dengan host-host yang lain dalam membawakan acara Talkshow yang mengedepankan sisi profesionalisme dan penampilan, mas tukul menyajikan sebuah acara talkshow dengan gaya ala kadarnya, kampungan dan terkesan tidak profesional. Namun hal itu justru menjadi kelebihan dan menjadi trademark tersendiri baginya. Kebanyakan orang sudah jenuh dengan pembawaan sebuah acara yang biasa-biasa saja. Dan kita pasti akan memalingkan wajah kepada sesuatu hal yang baru, unik, dan diluar sifat ke-umum-an. Tidak pernah terpikir seseorang yang kita nilai mempunyai banyak kekurangan seperti mas Tukul mampu menjadikan kekurangannya sebagai sebuah kelebihan yang tidak dipunyai oleh orang lain.
Namun belakangan ini publik tidak lagi seantusias dulu dalam menonton acara yang dibawakan oleh mas Tukul. Ada saatnya naik ada pula saatnya turun. Rasa bosan pelan-pelan tapi pasti sudah menghinggapi benak para penonton. Dari segi kualitas dan kuantitasnya, acara Empat Mata tetap sama seperti dulu. Bahkan setelah berganti menjadi Bukan Empat Mata, tidak ada hal yang benar-benar baru dalam isi acara tersebut. Hal ini yang menjadikan publik penggemar empat mata mulai merasa bosan. Lawakan yang monoton dan tema-tema episode yang terkesan kaku dan dipaksakan dengan tujuan untuk mengejar jam tayang, menjadi faktor yang paling dominan acara ini tidak semenarik yang dulu.
Belum lama ini ada sebuah acara komedi baru pada stasiun tv yang juga menyiarkan acara Empat Mata mulai booming. OVJ atau Opera Van Java. Pada awal OVJ terbentuk beranggotakan komedian-komedian yang tergabung dari beberapa grup lawak. Sule dari SOS, Parto dari Patrio, Azis Gagap, dan Andre mantan vokalis grup band Stinky, dan Olga Syahputra. Saat ini Olga sudah tidak bermain lagi kemudian masuk Nunung untuk menggantikan kekosongan yang ditinggalkan oleh Olga. Grup ini membawakan teknik melawak dengan berorientasi pada sebuah cerita yang dibawakan mirip ketoprak. Dilengkapi dengan iringan grup musik tradisional dan pengatur alur cerita yang disebut Dalang. Berperan sebagai dalang biasanya adalah Parto. Tugas dalang adalah menentukan dan mengatur jalannya cerita sesuai skenario. Teknik melawak OVJ merupakan teknik melawak yang mengedepankan kreatifitas dan spontanitas. Bahkan terkadang sering keluar dari jalan cerita. Teknik seperti ini merupakan sesuatu yang sangat disukai oleh kebanyakan penggemar acara lawak. Kejadian-kejadian diluar naskah yang dilakukan berdasarkan improvisasi secara tiba-tiba merupakan sebuah kondisi yang unik dan sangat jarang terjadi untuk kedua kalinya. Sehingga tipe lawakan yang monoton sebisa mungkin dapat dihindari. Namun kemampuan seperti ini tidaklah banyak orang mempunyainya. Karena kemampuan improvisasi dan spontanitas biasa didapatkan karena bakat alami dan juga pengalaman selama bertahun-tahun.
Banyaknya acara-acara hiburan yang muncul di stasiun-stasiun tv mengindikasikan kondisi masyarakat saat ini. Terlebih lagi acara-acara tersebut mendapatkan rating yang tinggi disetiap jam tayangnya. Mulai dari acara lawak sampai pada acara musik selalu berada pada rating yang bagus. Hal ini mengisyaratkan keadaan masyarakat kita yang haus akan hiburan. Lelah akan kepenatan kondisi bangsa ini yang dari dulu hingga kini tetap begitu-begitu juga.